Sabtu, 05 Desember 2015
Rabu, 16 September 2015
Tugas
JATUH CINTA DIAM-DIAM
Gadis cantik itu benama Adera. Dia masih duduk
di sekolah menengah atas tepatnya dia masih kelas 11 SMA. Adera tidak begitu
terbuka terhadap orang lain bahkan sama sahabatnya sendiri pun begitu. Dia
lebih banyak memendam semua masalahnya dan jauh sekali dari kata ingin curhat
dan minta solusi pada orang lain, atau sekedar mengobrol. Dia lebih sering
berdua sama kamera kesayangannnya dibandingkan sama orang lain. Menurutnya
kamera bisa jadi teman curhat karena dia pikir lewat sebuah gambar yang
dihasilkan akan mempuasksan dirinya. Adera tinggal bersama kakaknya. Dia sering
memanggilnya dengan sebutan Mas Aldi. Selama ini mas Aldi lah yang mengurusnya
karena Ayah dan Ibunya telah bercerai. Karena itulah dia tidak pernah tertarik
kepada lawan jenisnya. Dia pikir semua kebahagian itu akan berakhir dengan
tangisan dan bahkan akan ada yang di korbankan seperti halnya dirinya. Dia korban
perceraian orang tuanya. Dan saat itulah dia menjadi gadis pendiam bahkan
temannya pun hanya dengan kamera.
Setelah
melewatkan hari-hari dengan Adit, Adera tidak pernah bersedih. Adit selalu
membuat dirinya menjadi seperti sang putri. Kedekatan mereka pun semakin erat. Tapi
sayangnya kebahagiaan itu akan berakhir dengan kesediahan juga. Dan itu suatu
hal yang ditakuti Adera bahkan sekarang menjadi kenyataan. Tiba-tiba saja Adit
hilang dari hadapannya bahkan sekolah pun jarang sampai suatu ketika guru
mengabarkan bahwa Adit keluar dari sekolah. Entah apa alasannya yang jelas
tidak ada yang tau termasuk gurunya. Adera selalu mencari informasi tentang
keberadaan Adit dimana dan pada akhirnya pula Adera menemukan rumahnya tapi
sayangnya Adit telah pindah dari rumahnya. Dan kata pemilik rumah itu Adit
pindah ke Jerman. Paling mengejutkan tujuannya pindah ke Jerman itu untuk
berobat ternyata Adit mengidap penyakit kanker darah (leukimia). Adera sangat
terpukul akan berita seperti itu dia menangis tak hentinya mengingat nasib
Adit. Adera pun mendapatkan surat terakhir dari Adit yang isinya dia meminta
maaf bahwa dia harus pergi secara tiba-tiba dan dia juga mengatakan bahwa dia
mengidap penyakit kanker darah (leukimia) ini pada Adera dan juga pada mas Aldi.
Adit pun mengatakan dengan jujur bahwa sejak pertemuannya dengan Adera
mengundang rasa cinta yang teramat dalam tetapi dia tidak berani
mengungkapkannya. Adit takut dia akan menyakiti Adera karena usia Adit tidak
akan lama lagi dan dia takut jika seandainya Adera jatuh cinta dia kan patah
hati atas kehilangan Adit.setelah kejadian itu Adera melewati hari-harinya tanpa kehadiran Adit. Kerjaannya pun sekarang berubah menjadi menangis bahkan kebiasaannya yang suka memegang kamerapun sekarang berubah menjadi memegang tissu. Banyak sekali perubahan yang dialami Adera semenjak Adit pergi dari kehidupannuya.
Dari
situlah Adera sangat menyesal tidak pernah jujur atas isi hatinya. Tapi Adera sadar bahwa dia tidak boleh seperti ini. Dia belajar dari Adit yang tak pernah putus asa meskipun dia mengidap leukimia. Dan paling menyesal dia
tidak melihat Adit sebelumnya. Bahkan mungkin akan selamanya kehilangan
Adit. Tapi dia berjanji tidak akan bersedih karena itu adalah pesan Adit yang
terakhir kalinya untuk Adera agar tidak menangis lagi.
Disusun oleh Desi Sri Mulyani
Judul terinsfirasi dari Novel Jatuh Cinta Diam-Diam (Dwitasari)
Minggu, 23 Agustus 2015
Situ Bagendit atau dalam
bahasa Indonesia yang berarti Danau Bagendit merupakan salah satu danau yang
ada di daerah Jawa Barat. Danau tersebut memiliki ukuran yang cukup luas dan
dijadikan sebagai salah satu sumber air untuk memenuhi kehidupan masyarakat di
sekitar. Berdasarkan para pendahulu dan ahli sejarah. Situ Bagendit tersebut
diambil dari nama seorang wanita tua yang bernama Bagendit. Karena suatu kisah
kehidupan Bagendit Munculah situ atau danau tersebut dan menjadikan situ
tersebut banyak dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia karena legenda
yang mendasarinya.Pada zaman dahulu didesa
tersebut hiduplah seorang wanita paruh baya bernama Bagendit yang berstatus
janda. Janda tersebut memiliki harta yang melimpah peninggalan dari almarhum
suainya yang telah lebih dahulu meninggalkannya. Jadi tersebut tidak memiliki
anak sehingga ia hidup sendiri di rumahnya. Kekayaan yang ia miliki sering kali
menjadi kekhawatiran bahwa hartanya akan habis dan ia akan jatuh miskin. Oleh
karena ketakutan tersebut, Bagendit menjadi wanita yang pelit padahal ia adalah
orang yang paling kaya diantara warga desa lainnya. Selain pelit, Bagendit juga
merupakan sosok yang tidak ramah kepada orang lain.
Bagendit akan membantu
warga yang sedang kesulitan dalam hal ekonomi dengan cara meminjamkan uang
namun dengan ganti bunga yang sangat tinggi. Selain itu apabila warga yang
telat membayar hutang kepadanya akan mendapatkan perlakuan kasar dari orang
suruhan Bagendit dan menyita rumah warga yang berhutang tersebut sebagai
gantinya. Para warga sebenarnya sangatlah kesal dan jengkel terhadap sikap
Bagendit yang pelit tersebut. Bahkan Bagendit juga sering memamerkan harta
kekayaannya kepada warga sekitar tanpa belas kasihan.
Suatu hari saat Bagendit
sedang bersantai di halaman rumahnya sambil menghitung uang dan emas yang
dimilikinya datanglah seorang kakek yang telah sangat tua berjalan ke arah
rumah Bagendit sambil dipapah dengan menggunakan sebuah tongkat. Sang kakek
yang seorang pengembara itu bermaksud meminta sedikit air minum kepada Bagendit
karena kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Namun, Bagendit tidak
memberikannya dan justru malah memarahi kakek tersebut dengan kasar. Bagendit
juga mengusir kakek tersebut untuk pergi dari rumahnya. Sang kakek sangat
kecewa dan sedih kemudian ia mendirikan tongkatnya di depan rumah Bagendit
sambil berkata bahwa Bagendit akan menerima pelajaran dari sikapnya yang pelit
tersebut. Bagendit tidak memperdulikan dan hanya tertawa mendengar ucapak kakek
tua tersebut lalu masuk ke dalam rumahnya. Tongkat sang kakek kemudian di cabut
dan dari lubang tanah tersebut munculah air yang lama-lama mengakibatkan
banjir. Para penduduk desa berlarian menyelamatkan diri dan sang kakek
menghilang entah kemana. Setelah air meluapsudah hampir besar, Bagendit baru
menyadari dan ia malah menyelamatkan kekayaannya. Sambil membawa sekotak uang
dan emas Bagendit mencoba meminta tolong namun tidak ada orang yang
mmendengarnya karena desa telah sepi penghuni. Bagendit pun tenggelam bersama
kekayaannya dan air semakin meluap dan membentuk seperti danau. Kemudian danau
tersebut diberi nama Danau Bagendit atau Situ Bagendit.
Langganan:
Komentar (Atom)
